Ketika Kata Berbicara

Jika boleh kukatakan rindu,
Walau pandang pun tak kudapat darimu
Continue reading

Advertisements

Puncak

Hanya ada satu puncak di sini. Dingin, gelap, dan kosong menyelimuti puncak tersebut. Ya, belum pernah ada pendaki yang mencapai puncak tertinggi ini. Banyak yang sudah mencoba, bahkan ada yang merasa terpanggil untuk menggapai puncak tertinggi itu. Hasilnya? Nihil.

Puncak tersebut sangat dingin, karena lokasinya yang begitu tinggi. Kabut yang membuatnya gelap, hingga tak sedikitpun sinar matahari berhasil menembusnya. Kosong, tidak ada yang dapat ditemui di sana.

Continue reading

Pembelaan Perempuan dan Kretek

ImageOleh : Lalu Rahadian

Ditulis saat kegiatan Pelatihan Menulis Kritis Menjadi Kreatif pada 1-3 Juni 2012

Kretek dan perempuan merupakan dua hal berbeda. Tetapi, terdapat beberapa persamaan diantara kedua hal tersebut. Hal tersebut menjadi point penting yang kita dapatkan setelah membaca buku Perempuan Berbicara Kretek. Empat puluh esai yang terangkum dalam buku tersebut pada intinya membahas tentang kretek dan fungsinya, sebagai simbol perlawanan perempuan dalam menghadapi stigma yang dilekatkan pada mereka.

Latar belakang buku ini diterbitkan adalah, adanya stigma yang saat ini dilekatkan pada diri perempuan perokok. Hal tersebut disebutkan dalam kata pengantar yang tercantum di bagian awal buku. Lebih lanjut lagi, para penulis memiliki argumen yang menyatakan bahwa, sang perokok sendiri pada umumnya menganggap apa yang mereka lakukan itu tidak ada salahnya.

Penyematan stigma tersebut erat kaitannya dengan kuatnya budaya patriarki pada bangsa Indonesia sendiri. Menurut mayoritas penulis, pandangan bahwa perempuan baik adalah mereka yang “penurut dan beraktivitas di dapur dan kamar” sudah ada sejak lama di bangsa ini. Perlawanan yang dilakukan oleh Kartini semasa hidupnya dulu juga muncul akibat adanya penyeragaman tersebut. Saat ini, perlawanan masih terus dilakukan oleh beberapa golongan perempuan di Indonesia. Continue reading

Kata Hati

Apa kabar pagi ini ? semoga masih bisa kusapa dengan segar ya nanti..

Hari semakin dingin, Jogja hari ini begitu tidak menerima matahari. Entah apa yang menghalangi. Bagiku ini hanya siklus alam, yang memiliki arti tersembunyi.

Manusia memang selalu menyalahkan kenyamanan. Panas memohon dingin, dingin menanti panas. Maumu apa ? Jika hanya mengeluh, lama-lama kau pun akan terbunuh takdir !

Yah, sedikit tulisan ini untuk mengakhiri hari. Ingin terlelap, namun resah membayangi. Kenapa disana ? jangan mendekat, aku tak ingin nanti pagi terlambat…

Begitu indah hari yang baru saja pergi, warna-warni menghiasi. Jika rejeki memang tak kemana. Pengalaman kalian membantu saya untuk tumbuh dewasa.

Read more »