Kritik Otokritik

 

“Et Ducit Mundum Per Luce”

 

Merdeka!!!

GmnI Jaya!!!

Marhaen Menang!!!

Satu tahun sudah berlalu sejak Musyawarah Anggota Komisariat (MAK) GmnI Fisipol UGM terakhir berlangsung. Perjalanan kami, badan pengurus harian komisariat GmnI Fisipol UGM periode tahun 2013/2014 pun telah mencapai akhir. Begitu banyak pengalaman yang kami dapatkan selama kurun waktu satu tahun kebelakang ini.

Masih teringat jelas bagaimana MAK GmnI Fisipol UGM tahun 2013 berlangsung. Kala itu, harapan untuk membesarkan api perjuangan yang dilakukan GmnI sempat terlihat. Berbagai kegiatan dan pedoman untuk bergerak disusun sedemikian rinci saat itu agar perbaikan dapat terjadi di tubuh komisariat GmnI Fisipol UGM.

Continue reading

Advertisements

Perilaku Politik Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Dalam Pemilihan Raya BEM KM 2012

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2012 untuk memenuhi kewajiban para penulis dalam mata kuliah “Perilaku Politik” di Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM. Dipublikasikan kembali dalam blog ini dengan tujuan pendidikan bagi masyarakat secara luas.

Oleh:

Lalu Rahadian, Boby Sidik Dyan Wijaya

 

Abstraksi

Mekanisme pemilihan para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa di UGM dilakukan dengan menggunakan model pemilu nasional. UGM menamai proses tersebut dengan nama PEMIRA. Respon para mahasiswa di kampus kerakyatan tersebut berbeda-beda dalam melihat proses Pemira BEM-KM setiap tahunnya. Perbedaan perilaku tersebut muncul karena adanya pandangan yang beragam dari mahasiswa. Banyak dari mereka yang antipati terhadap BEM-KM, dan ada pula yang dengan sungguh-sungguh mengawal secara penuh proses pemilihan yang berlangsung. Sikap dan perilaku mahasiswa Fisipol UGM dapat menjadi cermin dari keberagaman sikap mahasiswa UGM pada umumnya.

(Kata Kunci : Mahasiswa, Fisipol UGM, Pemira BEM-KM, Perilaku)

Continue reading

Lelah

"Aku lelah dibujukmu, lepaskan jangan kau menggoda"

Jalan Pulang – Lelah

Dengan tenang lagu tersebut mengiringi saya untuk menulis blog di dinihari ini. Begitu menumpuk tugas dan kewajiban yang harus dijalankan, sementara saya tangguhkan hanya demi menulis disini. Mencoba untuk sejenak keluar dari rutinitas yang akhir-akhir ini memang membuat saya lelah.

Manusia itu memiliki batas. Dalam segala hal, kita memang mahluk sempurna yang juga memiliki keterbatasan tak terhingga dalam menjalani hidup ini.

Ah, coba bayangkan..sehabis ini saya akan kembali berhadapan dengan kewajiban mengedit tulisan yang sangat banyak. Belum lagi bisikan hasil wawancara yang masih tersimpan di handphone meminta perhatian. Oh ya, untuk besok kamis pun tugas belum sepenuhnya saya rampungkan !

Read more »

Merdeka

Penuh makna saya ucap sebuah kata

Indah dan nyata dalam angan
Layaknya pahala dan surga dalam agama
Tidak mudah memahami
Tidak sulit untuk berani
Jika memang ditekuni, tidak akan sekedar angan
Bebas dan luhur, begitu indah
Memang begitu adanya, mempesona
Saya terkesan,
Komitmen hati dan aksi nyata perlu
Merdeka, atau apapun namamu…
Mari bertemu dan hindari malu
Jangan mengendap dalam angan,
Saya tidak butuh ciuman, pelukan darimu
yang kudamba, hadirmu denganku
Tagih janji ini, jika suatu hari kuingkari
Aneh mendekati, 
tapi angan adalah awal…
Langkah sudah kutempuh, 
mari temani diri ini
Merdeka ! 🙂

Meraba Orientasi Mahasiswa

Kondisi pendidikan tinggi di Indonesia saat ini kembali memasuki masa-masa kegelapan dalam beberapa aspek. Jika dibandingkan dengan kondisi di era Orde Baru, dimana mahasiswa hidup ‘berdampingan’ dengan para intel yang berkeliaran di kampus, jelas saat ini kondisi sudah semakin baik adanya. Saat ini mahasiswa sudah tidak perlu khawatir lagi untuk memulai diskusi dan menuangkan tulisan ke dalam lembaran-lembaran kertas yang memuat kritikan terhadap penguasa. Penyebaran berbagai macam ideologi pun sudah dapat dilakukan dengan begitu bebasnya melalui berbagai macam media yang tersedia. Hal tersebut  tidak seperti di era Orba yang begitu ketat melarang masyarakat untuk mempelajari jenis-jenis ideologi di dunia, terkecuali ‘ideologi pembangunan’ dan pancasila yang sudah banyak disalah artikan pada masa itu.

Kemudian, dimana letak kemunduran kondisi pendidikan saat ini ? Jika kita hanya sebatas melihat pada aspek-aspek penjamin ketersediaan kebebasan dan fasilitas, memang saat ini sudah terjadi kemajuan yang sangat pesat dalam hal tersebut. Namun, jika kita palingkan pandangan pada aspek-aspek pemanfaatan kebebasan dan fasilitas tersebut, maka kita akan menemukan kondisi  yang memprihatinkan saat ini. Intensitas dan kualitas pendidikan semakin mengalami degradasi. Tujuan mahasiswa sebagai aktor yang mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi saat ini mayoritas hanya semata untuk mendapatkan ijazah dengan muatan nilai-nilai bagus di dalamnya. Perlombaan untuk mendapatkan nilai bagus dengan jangka waktu studi yang singkat menjadi ciri khas dari kondisi mahasiswa saat ini. Esensi mahasiswa yang sudah menyandang gelar “maha” di depan kata “siswa” tersebut seakan makin pudar adanya. Semakin jarang bukan kita temui suasana diskusi cair yang bersubstansi di kalangan mahasiswa ? perubahan sosial yang terjadi karena campur tangan mahasiswa di dalamnya juga semakin jarang kita temui saat ini. Di lain sisi, semakin banyak mahasiswa yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai bagus dalam ujian di bangku perkuliahan.

Read more »

Untuk Mahasiswa dan Indonesia

Saya lama-lama tidak heran kalo liat pemerintah sekarang yang jauh dari masyarakat. Lah bisa dilihat kok dari kalangan mahasiswa contohnya, Badan eksekutif Mahasiswa nya saja jauh dari mahasiswa sebenarnya. di UGM, secara jujur saya katakan bahwa saya dan beberapa teman saya tidak merasakan sama sekali kehadiran BEM dan DPM secara luas. keputusan-keputusan yang mereka buat juga bisa dikatakan tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa menurut saya.  "jalan-jalan" ke luar negeri, mengadakan seminar dengan biaya besar tanpa adanya sosialisasi yang luas terhadap mahasiswa menurut saya itu adalah beberapa hal USELESS. Mahasiswa telah menjadi korban dari adanya Badan yang mengatasnamakan mahasiswa terhadap kebijakan-kebijakan dari badan tersebut. Namun mahasiswa pun seolah tidak ingin tahu dan tidak sama sekali peduli dengan keadaan itu. Ketidakpedulian tersebut wajar lahir karena, sekali lagi, adanya jarak yang jauh antara pihak perwakilan terhadap mahasiswa sendiri. Namun sampai kapan kalian mau diam ? apakah kalian rela beberapa pihak mengatasnamakan mahasiswa demi kepentingan-kepentingan mereka semata ? sadarlah kalian bahwa mereka telah memanfaatkan kita sebagai senjata untuk mencapai kepentingan mereka ! Dimana kalian sematkan kata "maha"siswa kalian ? jika untuk mengatasi hal seperti itu saja kalian malas. Tak ada bedanya kalian dengan para siswa yang masih belajar di tingkat-tingkat pendidikan dasar menengah.

Read more »

I

Di setiap penjuru dunia ini setiap negara, organisasi, gerakan, dan apapun itu namanya pasti memiliki setidaknya satu pemimpin atau koordinator untuk penyebutan lainnya. Masing – masing pemimpin memiliki sebuah gaya kepemimpinan tersendiri yang sudah melekat didalam dirinya sejak ia lahir, dan saat individu tersebut mengenal dunia secara lebih terbuka maka gaya kepemimpinannya pun ikut terpengaruh dengan lingkungan tempat ia berada.

Tegas, peragu, pemarah, pemaaf, cepat tanggap, mudah cuci tangan, dan sifat – sifat lain yang dimiliki oleh para pemimpin adalah sebuah ciri tersendiri menurut saya untuk membedakan karakteristik antara pemimpin yang satu dengan lainnya. Walaupun memang terdapat beberapa sifat yang mirip diantara pemimpin – pemimpin tersebut, tetapi menurut saya (lagi) persamaan tersbeut hanyalah sebuah titik kecil belaka yang membuat setiap pemimpin dirasa “sama” oleh yang menganggap mereka SAMA !

Apa maksud dari semua basa – basi diatas ? saya ingin menegaskan disini bahwa (mungkin) gaya kepemimpinan saya adalah gaya yang tidak banyak manusia senangi. Pemarah, terkadang meremehkan pekerjaan, menganut paham lebih cepat lebih baik, adalah sekian ciri kepemimpinan yang dapat saya identifikasi dari dalam diri sendiri. Sifat pemarah jelas sangat tidak disukai oleh manusia disana, dan saya jelas sekali ingin merubah (setidaknya meredam) sedikit gelora kemarahan yang ada didalam diri saya. Banyak cara untuk meredam hal tersebut, akan tetapi sedikit manusia yang dapat memahami bahwa saya disini sedang berusaha untuk meredam sifat tersebut. Tidak bisa saya langsung menghapuskan sifat pemarah yang sudah ada sejak lama didalam diri ini begitu saja, proses dibutuhkan disini, dan saya memaklumi jika ada manusia – manusia yang (mungkin) merasa tersakiti dengan adanya proses itu.

Tapi apakah saya pernah melampiaskan kemarahan tanpa adanya alasan yang jelas ? saya rasa dan seingat saya TIDAK PERNAH. Alasan yang ada pun bukanlah semata – mata alasan konyol untuk membenarkan kemarahan saya, tetapi itu merupakan alasan yang memang wajar adanya sehingga muncullah kemarahan dalam diri ini. Tetapi mungkin penyampaian emosi sangat tidak terkendali dari diri saya pribadi sehingga banyak manusia yang tidak menyukai sifat ini. Perlahan saya mencoba untuk mengendalikan amarah tersebut, tapi saya kembali berpikir :  

“Apakah mungkin tipikal orang Indonesia yang sering merasa lupa diri ketika sudah diberikan kebaikan dan keleluasaan akan dapat mengerti kewajiban mereka tanpa harus menuntut hak terdahulu ?”

Karena saya melihat begitu mudahnya pemimpin yang tidak memiliki sifat “liar” dan tegas didalam dirinya dipermainkan oleh manusia – manusia disekeliling pemimpin tersebut. Didukung pula oleh lingkungan yang menyukai pemimpin seperti itu, pemimpin yang dapat dijadikan “mainan” bagi mereka. Sungguh ironis, lalu mau apa kalian manusia ?

Tegas, adalah salah satu hal yang jelas berbeda dengan Marah, tetapi saya sampai saat ini belum dapat memahami secara penuh apa perbedaan dari kedua hal tersebut. Belum secara penuh saya memahami, dan saya tak ingin keinginan untuk memahami tersebut mati hanya karena tuntutan lingkungan yang kejam. Benar mungkin apa yang dikatakan oleh beberapa manusia di luar sana bahwa menulis adalah salah satu cara yang efektif dapat meredam kemarahan dalam diri manusia. Saya sebagai manusia mencoba hal tersebut, saat ini, dan kembali saya mendapatkan satu pencerahan dari lingkungan hari ini.

Terima Kasih