Karunia

Kali ini tak ada gombal. Apalagi ingkar yang sering menggoda.

Untukku, Dia pilih kamu. Tanpa ragu, karena itu bukan sifatnya.

Tanpamu, aku tak ada. Bukan kenapa, tapi hukum begitu adanya.

Berhenti, mari kita bersama, sampai Dia kembali menjemput kita.

Dalam yakin ku berdoa, penuh syukur kuucap.

Terima kasih telah ada. Terima kasih atas karuniaMu.

Kamu yang nyata menjawab. Aku yang menjawab penuh yakin.

Bagiku, cinta dunia ada padamu. Ayunda.

Langkah Pertama

Tidak sengaja kulihat foto itu sebelum tidur malam ini.

Setahun sudah ternyata, kusadari setelahnya. Sebuah kebahagiaan besar saat itu, ketika langkah kecilmu menghadirkan senyum bagiku.

Sederhana, namun aku masih mengingatnya. Sekuat ingatan akan ucapan seorang kawan, ketika kuceritakan kabar bahagia (menurutku) itu.

“Ah, biasa aja!”
“Iya sih…tapi aku senang melihatnya, kawan!”

Masih tersimpan pula di dalam harddisk laptopku. Tersembunyi diantara banyaknya berkas disana. Tampak sengaja meminta kubuka dinihari ini. Untuk sejenak menghadirkan senyum kembali bagiku.

Membawakan kebahagiaan kecil disaat gelap sedang datang beberapa waktu ini. Seperti bocah yang mendapat hadiah saat sedih. Tidak beda dengan pelukan sang suami terhadap istrinya yang sedang marah.

Sejenak senyum muncul.

Sebuah langkah pertama yang tidak akan aku lupakan. Ternyata, sampai saat ini kau masih bisa membuatku tersenyum. Seperti malam itu, tak sengaja pula kau membahagiakan diri ini.

Tanpa perlu kau tau, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.

Puncak

Hanya ada satu puncak di sini. Dingin, gelap, dan kosong menyelimuti puncak tersebut. Ya, belum pernah ada pendaki yang mencapai puncak tertinggi ini. Banyak yang sudah mencoba, bahkan ada yang merasa terpanggil untuk menggapai puncak tertinggi itu. Hasilnya? Nihil.

Puncak tersebut sangat dingin, karena lokasinya yang begitu tinggi. Kabut yang membuatnya gelap, hingga tak sedikitpun sinar matahari berhasil menembusnya. Kosong, tidak ada yang dapat ditemui di sana.

Continue reading