Kritik Otokritik

 

“Et Ducit Mundum Per Luce”

 

Merdeka!!!

GmnI Jaya!!!

Marhaen Menang!!!

Satu tahun sudah berlalu sejak Musyawarah Anggota Komisariat (MAK) GmnI Fisipol UGM terakhir berlangsung. Perjalanan kami, badan pengurus harian komisariat GmnI Fisipol UGM periode tahun 2013/2014 pun telah mencapai akhir. Begitu banyak pengalaman yang kami dapatkan selama kurun waktu satu tahun kebelakang ini.

Masih teringat jelas bagaimana MAK GmnI Fisipol UGM tahun 2013 berlangsung. Kala itu, harapan untuk membesarkan api perjuangan yang dilakukan GmnI sempat terlihat. Berbagai kegiatan dan pedoman untuk bergerak disusun sedemikian rinci saat itu agar perbaikan dapat terjadi di tubuh komisariat GmnI Fisipol UGM.

Dinamika yang terjadi saat MAK tahun 2013 berlangsung juga berbeda dengan MAK di tahun-tahun sebelumnya. Proses musyawarah yang dilakukan oleh kader-kader GmnI Fisipol UGM berlangsung sangat lama. Namun, dialektika yang muncul dari gesekan pemikiran antar kader saat itu mampu menghasilkan hal-hal positif bagi komisariat GmnI Fisipol UGM.

Hasil dialektika yang berlangsung secara musyarawah hingga mufakat tersebut tertuang secara jelas dalam garis besar haluan organisasi tingkat komisariat. Hal tersebut yang badan pengurus harian jadikan pedoman dalam mengkoordinasi gerak di dalam suatu program maupun kegiatan. Sebagai kader yang diberikan kepercayaan untuk melakukan koordinasi, setiap tindakan yang badan pengurus harian lakukan tentu dilandasi dengan rasa penuh tanggung jawab terhadap organisasi gerakan ini.

Ya, kewajiban badan pengurus harian tidak lain adalah untuk melakukan koordinasi gerakan di tingkat komisariat. Berbagai macam kegiatan yang berlangsung adalah manifestasi nyata dari bentuk gerak tersebut. Landasannya? Tentu saja ideologi marhaenisme yang menjadi azas dan azas perjuangan dari organisasi-gerakan ini.

Tidak ada satupun kegiatan berjalan tanpa didasari marhaenisme sebagai ideologi. Tentu setiap mahasiswa yang mengaku sebagai kader GmnI harus menjadikan marhaenisme sebagai landasan dalam bertindak. Sekecil apapun kegiatan yang berjalan, tujuan dan landasannya pasti dipengaruhi oleh marhaenisme sebagai ideologi yang kita yakini kebenarannya.

Karena hanya sebatas melakukan koordinasi, maka tidak selayaknya kader-kader GmnI Fisipol UGM sepenuhnya melepaskan diri dari tanggung jawabnya untuk menjalankan program-program organisasi. Namun, sayangnya dalam kurun waktu satu tahun ini hal tersebut sering kali tidak dilakukan. Sering terlihat minimnya partisipasi kader dalam beberapa kegiatan dan program yang diadakan. Kehadiran kader dalam rapat rutin, seperti muskom, juga tidak terlalu besar. Dari fata tersebut kita bisa melihat adanya masalah dalam internal komisariat GmnI Fisipol UGM.

Masalah apakah yang sedang dialami? Komitmen kader untuk bergerak bersama-lah jawabannya. Secara kuantitas memang jumlah kader komisariat GmnI Fisipol UGM terhitung banyak. Jika dibandingkan dengan kader-kader yang komisariat lain di wilayah DIY miliki, GmnI Fisipol masih menjadi komisariat yang memiliki anggota paling banyak. Namun, keunggulan kuantitas tersebut tidak selamanya berdampak positif terhadap pengembangan kualitas dan gerakan yang dilakukan oleh komisariat ini. Ikatan, self attachment, terhadap organisasi-gerakan ini perlahan pudar adanya dalam diri sebagian kader.

Memang jumlah peserta rapat, kegiatan, dan panitia acara tidak bisa menjadi satu-satunya tolak ukur untuk menilai kinerja organisasi-gerakan ini. Namun, jika degradasi komitmen yang terjadi dibiarkan begitu saja, maka kematian GmnI diyakini hanya tinggal menghitung hari saja. Apalagi masalah lain juga muncul di luar berkurangnya komitmen dalam diri masing-masing kader terhadap organisasi-gerakan ini. Ya, kualitas pemikiran kader, terutama GmnI Fisipol UGM, diakui mengalami penurunan dalam rentang waktu satu tahun kebelakang. Dua permasalahan tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja adanya.

Kemunculan masalah yang sudah disebutkan di atas menjadi murni tanggung jawab kita bersama. Tampaknya kita harus mulai kembali menghadap ke cermin, melihat dengan seksama setiap detail diri kita, dan memperbaiki cacat-cacat yang ada di dalamnya. Sampai saat ini seringkali kita hanya sibuk menilai diri orang lain, komisariat lain, pun DPC selaku struktur organisasi di atas kita, tanpa melakukan hal yang sama ke dalam.

Kritik yang sudah dan terus diberikan bukan berarti harus dihentikan. Justru kritik harus terus dilakukan, karena kesempurnaan masih jauh adanya dalam tubuh organisasi-gerakan ini. Namun kita juga tidak bisa melakukan kritik tanpa diiringi dengan introspeksi diri sendiri.

Memang membanggakan diri sendiri itu perlu dilakukan. Untuk membangkitkan semangat, dan sebagai bentuk motivasi yang berasal dari dalam untuk kebaikan kita sendiri juga. Namun, jika hal tersebut dilakukan terus menerus ditakutkan bukan perbaikan yang akan terjadi. Ya, self esteem, membanggakan diri sendiri, itu perlu. Namun hal tersebut cukup dilakukan sesuai keperluannya saja. Jangan terlalu berlebihan!

Kritik-otokritik adalah hal yang harus segera dilakukan oleh komisariat GmnI Fisipol UGM. Tidak hanya dilakukan oleh pengurusnya, namun juga seluruh kader di dalamnya. Hati kita perlu dibesarkan agar bisa terbuka menerima segala bentuk kekurangan dalam internal rumah kita ini.

Sebelum penjabaran umum kinerja BPH dalam menjalankan tugasnya selama satu tahun ini, perlu kiranya kita mengingat kembali konsep nasionalisme yang diyakini oleh Bung Karno, proklamator negara ini. Perbedaan konsep nasionalisme Bung Karno, dengan nasionalisme yang diyakini oleh tokoh-tokoh internasional lain, ada dalam hal cakupannya. Secara jelas Bung Karno mengatakan bahwa nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme yang tidak chauvinis, tidak terlalu membanggakan bangsanya sendiri dan menganggap remeh bangsa lain. Tanpa sikap chauvinis, maka Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa wajib hidup berdampingan dengan negara dan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Hidup berdampingan tanpa harus menjajah, atau dijajah oleh negara-negara di dunia.

Penjelasan rinci mengenai pandangan dan arti nasionalisme bangsa Indonesia dapat kita temui dalam berbagai literatur yang ditulis oleh Bung Karno. Pancasila dan pembukaan UUD 1945 menjadi contoh sumber-sumber kunci yang harus dipelajari agar kita mengerti maksud dari harapan Bung Karno tersebut. Sebagai kader organisasi-gerakan yang menggunakan marhaenisme sebagai ideologinya, kita harus menerapkan konsep nasionalisme non-chauvinis tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu yang paling mudah adalah dengan tidak secara membabi buta membanggakan internal komisariat kita, dan memandang remeh komisariat atau struktur organisasi di luar komisariat GmnI Fisipol UGM.

Pancasila, yang merupakan penjabaran dari ideologi marhaenisme, harus kita jadikan pedoman dalam bertindak. Cahaya yang akan menuntun organisasi-gerakan ini, negara ini, bangsa ini, untuk lebih maju kedepannya adalah pancasila. Pelajarilah pancasila terlebih dahulu. Jadikan ia pedoman yang akan menuntun kita semua ke arah keadilan bagi seluruh umat manusia di muka bumi.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh kader yang telah berperan aktif menjaga api perjuangan selama ini.Semoga kedepannya GmnI dapat terus melakukan perjuangan dengan berdasarkan pada marhaenisme sebagai landasannya. Jadilah pejuang pemikir, pemikir pejuang yang sejati. Teruslah berjuang dan bergerak bersama menuju Indonesia merdeka.

Merdeka!!!

GmnI Jaya!!!

Marhaen Menang!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komisaris Komisariat GmnI Fisipol UGM Tahun 2013/2014

Lalu Rahadian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s