Pembelaan Perempuan dan Kretek

ImageOleh : Lalu Rahadian

Ditulis saat kegiatan Pelatihan Menulis Kritis Menjadi Kreatif pada 1-3 Juni 2012

Kretek dan perempuan merupakan dua hal berbeda. Tetapi, terdapat beberapa persamaan diantara kedua hal tersebut. Hal tersebut menjadi point penting yang kita dapatkan setelah membaca buku Perempuan Berbicara Kretek. Empat puluh esai yang terangkum dalam buku tersebut pada intinya membahas tentang kretek dan fungsinya, sebagai simbol perlawanan perempuan dalam menghadapi stigma yang dilekatkan pada mereka.

Latar belakang buku ini diterbitkan adalah, adanya stigma yang saat ini dilekatkan pada diri perempuan perokok. Hal tersebut disebutkan dalam kata pengantar yang tercantum di bagian awal buku. Lebih lanjut lagi, para penulis memiliki argumen yang menyatakan bahwa, sang perokok sendiri pada umumnya menganggap apa yang mereka lakukan itu tidak ada salahnya.

Penyematan stigma tersebut erat kaitannya dengan kuatnya budaya patriarki pada bangsa Indonesia sendiri. Menurut mayoritas penulis, pandangan bahwa perempuan baik adalah mereka yang “penurut dan beraktivitas di dapur dan kamar” sudah ada sejak lama di bangsa ini. Perlawanan yang dilakukan oleh Kartini semasa hidupnya dulu juga muncul akibat adanya penyeragaman tersebut. Saat ini, perlawanan masih terus dilakukan oleh beberapa golongan perempuan di Indonesia.

Buku itu sendiri membagi tulisan-tulisan yang ada ke dalam empat bab. Pembagian tersebut dilakukan untuk memudahkan pembaca dalam memahami gagasan utama dari esai-esai yang ada. Kumpulan esai di dalam Bab I menjelaskan tentang perempuan dan kretek yang mengelilingi keseharian hidup mereka. Kemudian, Bab II membahas tentang stigma yang muncul dalam masyarakat Indonesia terhadap para perempuan perokok. Bab III dalam buku tersebut bercerita tentang kondisi rokok kretek dalam dunia dewasa ini. Pada Bab IV, aspek budaya yang lahir dari keberadaan kretek di tengah masyarakat menjadi titik tekan yang ditampilkan oleh para penulis

Karya Atika yang berjudul ”Kota Gila” dalam Bab I membuka ketertarikan saya saat membaca buku ini. Dalam esai tersebut, penulis bercerita tentang dirinya yang berada di tengah-tengah perbincangan antara temannya dengan seorang supir taksi, saat mereka akan menuju lokasi wawancara. Saat itu kondisi dalam taksi diselimuti ketegangan sebagai akibat dari adanya kemacetan yang melanda jalanan Ibukota. Dalam kondisi seperti itu, Atika yang memang tidak merokok melihat bagaimana keberadaan kretek dapat menjadi ‘pencair’ suasana di dalam taksi. Percakapan antara temannya dengan sang supir mengenai perubahan wajah Jakarta selama beberapa dekade mampu menurunkan tingkat ketegangan yang ada. Perbincangan juga mengarah pada minimnya perhatian pemerintah terhadap kondisi lingkungan hidup di Ibukota Indonesia tersebut.

Pelekatan stigma terhadap perempuan yang merokok di bahas dalam bab selanjutnya. Stigma tersebut muncul sejak rezim Orde Baru berkuasa. Adanya penanaman nilai ‘perempuan baik’ dan ‘perempuan jahat’ saat itu ternyata masih membawa pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat Indonesia hingga saat ini. Umumnya, stigma tersebut dihadirkan dalam bentuk metafora bahwa perempuan yang merokok adalah perempuan yang ‘nakal’, jahat, dan tidak layak dijadikan istri.

Terlepas dari latar belakang konsumen, ternyata kretek sendiri saat ini tengah mendapat tekanan yang sangat kuat dari berbagai pihak. Beberapa esai terkait hal tersebut ditempatkan pada bagian terakhir buku ini. Para penulis beranggapan bahwa tekanan terhadap kretek dibawa oleh pihak-pihak tertentu, dengan menggunakan argumen yang berdasarkan pada aspek kesehatan, budaya, dan ekonomi. Aktor yang paling berperan dalam menekan kretek adalah industri rokok putih internasional yang berasal dari luar Indonesia.

Tekanan kepada kretek dapat kita lihat adanya dalam beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia. Anis Mahesaayu dalam tulisannya yang berjudul Mak Pik Si Pengkretek misalnya, menuliskan bahwa salah satu kebijakan yang dimaksud adalah kehadiran Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang dapat dijumpai di beberapa wilayah Indonesia. Pembentukan KTR tersebut dilakukan oleh pemerintah dengan argumen bahwa, polusi yang dihasilkan oleh asap rokok dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat secara umum. Bagian ini menjelaskan bagaimana tekanan yang dibangun untuk menghancurkan industri rokok kretek saat ini ternyata tidak berdasarkan data dan fakta yang diolah secara mendalam.

***

Secara keseluruhan, buku Perempuan Berbicara Kretek telah berhasil menyumbangkan keberagaman pandangan terhadap keberadaan rokok kretek di Indonesia. Memang hingga saat ini masih jarang literatur yang mengangkat aspek positif dari keberadaan kretek di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Buku ini seakan ingin menjawab berbagai tudingan negatif yang selama ini ada.

Namun, dibalik segala kelebihan yang ada buku ini juga memiliki beberapa kekurangan dalam segi penyajian maupun substansinya. Dalam hal penyajian, begitu banyak penggunaan ejaan, kata, maupun susunan kalimat yang tidak sesuai kaidah. Kemudian, alur buku yang telah dijelaskan dalam bagian pengantar juga ternyata tidak terwujud dalam bentuk yang ideal. Begitu banyak pengulangan gagasan yang dapat kita jumpai dalam Bab-Bab terpisah di buku tersebut.

Menurut saya, salah satu faktor dari adanya kesalahan-kesalahan tersebut adalah ketiadaan editor yang me-review esai-esai terpilih. Hal tersebut berdampak pada munculnya ketidaknyamanan bagi pembaca buku tersebut. Banyaknya kesalahan dalam segi penulisan tersebut juga menimbulkan kesan bahwa buku tersebut tidak disusun dengan persiapan yang matang sebelum akhirnya dikeluarkan ke khalayak ramai.

Kemudian, dalam hal substansi juga ditemui beberapa kelemahan dalam buku tersebut. Argumen yang dibangun oleh para penulis dalam menyampaikan pandangannya terhadap keberadaan rokok kretek terkesan monoton. Pembacaan kembali sejarah pemberontakan yang pernah dilakukan oleh Roro Mendut dan Kartini pada masanya dapat kita temui di hampir seluruh esai di buku tersebut. Kemudian, penjelasan terkait manfaat dan dampak buruk dari kretek juga tidak disampaikan secara seimbang oleh para penulis. Akhirnya, pembelaan terhadap kretek di dalam buku tersebut terkesan dilakukan secara parsial, tanpa terlebih dahulu menimbang kadar manfaat dan dampak negatif yang muncul.

Satu hal yang menarik dari keberadaan buku ini adalah penggunaan perempuan sebagai subjek di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat mulai dari cover dan juga judul yang menyelimuti buku. Pemilihan perempuan sebagai subjek tentu tidak dilakukan tanpa alasan. Adanya tekanan yang dilakukan secara terus menerus terhadap perempuan di satu sisi, dan kretek di sisi yang lain, menjadi titik temu dari keberadaan dua hal tersebut.

Kita dapat melihat adanya mutualisme yang terbangun antara kretek dan perempuan di masing-masing sisi. Pembelaan terhadap kretek oleh perempuan tentu akan menarik perhatian para stakeholder yang membaca buku tersebut. Perilaku masyarakat terhadap keberadaan perempuan di kehidupan sehari-hari juga akan terkena pengaruh. Kretek menjadi simbol yang menunjukkan bahwa kesetaraan di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat wajib adanya.

Akhir kata, pembelaan terhadap perempuan dan kretek menjadi satu kelebihan yang khusus dimiliki oleh buku ini. Jika anda tertarik untuk mengetahui pandangan para perempuan yang mendukung keberadaan kretek, maka buku ini wajib untuk dibaca. Namun, jangan anda harapkan akan ada penjelasan terkait sejarah serta perbandingan rokok kretek dan putih secara mendalam pada buku ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s