Berdialektika sejenak

Dialektika yang menurut informasi dari salah seorang teman saya adalah berbicara dengan substansi yang lebih bermakna menurut saya cocok untuk dijadikan headline tulisan saya kali ini. Tulisan yang lebih bermakna dari tulisan – tulisan sebelumnya, walaupun saya akui bahwa tulisan – tulisan saya yang lain pun memiliki makna pastinya. Makna ? saya juga sedikit tidak mengerti akan arti dari sebuah kata itu, apalah artinya menurut saya tidak akan bisa dimengerti jika kita tidak mencoba untuk memahaminya.

Begitu banyaknya kegiatan dan rutinitas yang terjadi sampai saat ini memberikan dampak yang berarti bagi saya. Jenuh, entah mengapa saya mengakui bahwa saya memang merasa jenuh akhir – akhir ini dalam segala aspek kehidupan. –> Segala aspek <adalah hal yang perlu diperhatikan untuk memahami tulisan saya kali ini. Hal yang lumrah adanya bagi setiap manusia jika merasakan kejenuhan yang muncul di dalam hidupnya, itulah perkataan teman saya yang saya (kembali) kutip 🙂

Saya pun yakin anda semua pernah merasakan, atau mungkin sedang berada di dalam fase – fase kejenuhan dalam hidup anda. Tetapi apa sebenarnya keuntungan, kepentingan, atau kegunaan dari munculnya jenuh tersebut dalam diri seorang manusia ? menurut saya mungkin dengan adanya rasa jenuh tersebut seorang manusia akan dapat lebih keras berusaha untuk mengetahui dan mengenali diri mereka masing – masing. Karena sungguh sulit sebenarnya bagi seorang individu untuk mengenali dirinya sendiri. Itulah salah satu alasan mengapa banyak orang yang tidak dapat mengenali lingkungan mereka, karena toh mengenali diri sendiri pun mereka tidak mampu.

Mengalihkan perhatian ke aspek lain, saya akan mencoba untuk menuliskan tentang pandangan saya terhadap kehidupan politik negara ini, secara umumnya, dan khusus membahas mengenai salah satu partai yang berlandaskan marhaenisme pada awal berdirinya, PNI. Salah satu partai tertua yang ada di Indonesia dan berdiri sejak tahun 1927, semenjak runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 beberapa tahun kemarin partai tersebut kembali muncul di kancah perpolitikan Indonesia. Dengan berbagai nama yang ada, mulai dari PNI – Massa Marhaen, PNI – Front Marhaenisme, PNI – Supeni, dll ada kesan yang dapat diambil dari munculnya PNI – PNI baru tersebut. Baru karena menurut saya PNI – PNI yang lahir semenjak runtuhnya rezim Orde baru saat itu merupakan partai – partai politik dengan kesamaan visi, ideologi (mungkin ?) tetapi tidak dapat bersatu kembali membentuk satu partai utama seperti apa yang terjadi pada saat sebelum orde baru berkuasa, yaitu satu PNI yang berlandaskan ideologi marhaenisme dan berada dibawah satu pengorganisasian.

Pemahaman saya mengenai perkembangan PNI memang belum terlalu banyak, tetapi saya menganggap bahwa permasalahan yang ada menyangkut kehadiran partai tersebut di Indonesia adalah hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Dapat dikatakan bahwa hal tersebut adalah (mungkin) salah satu hal yang dapat meniadakan kejenuhan saya saat ini. Adakah diantara kalian yang membaca tulisan ini memiliki artikel, bahan bacaan, ataupun informasi menyangkut kehadiran PNI di Indonesia ? jika ada mungkin saya dapat meminjamnya hehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s