Jakarta, 16 september 2010

Jakarta..hari ini engkau terasa sangat “berwarna” dalam mengisi hari – hariku..

warna yang berganti – ganti datang menyeruak mengisi hari ini..jujur sebenarnya sudah muak aku dengan berbagai hal di dalam kota ini, kecuali hal mengenai keluarga ku mungkin..
Mulai dari kemacetan yang selalu hadir di setiap waktu setiap sudut kota ini, buruknya penataan kota yang dilakukan oleh “ahlinya” ini, kesenjangan sosial yang makin terasa dan nyata terlihat semakin hari, hingga masalah hidup yang memang sesungguhnya selalu mengisi hari – hari para manusia di dalam kota Jakarta ini.

Kota yang menurut saya sudah tidak pantas menyandang nama Ibukota Republik Indonesia. Kota ini memang begitu besar dan menyediakan berbagai sarana serta prasarana yang mencukupi, mencukupi bagi mereka yang berduit banyak..mereka yang miskin terlantar dan termarjinalkan hanya mendapatkan saran prasarana yang seadanya, bahkan bisa dibilang sarana prasarana bagi kaum – kaum tersebut hanya proyek “asal – asalan” pemda DKI saja. Lucu melihat begitu mudah dan gampangnya mall – mall serta lapangan – lapangan golf dibangun..tetapi di satu sisi kita dapat saksikan begitu lambat dan jarangnya pembangunan Rusun, Taman kota, dan sarana transportasi yang layak bagi masyarakat Jakarta sendiri. Ironis, jujur saya sudah muak dengan kota ini. Sudah muak dengan segala kebobrokannya..

Masyarakat Jakarta ? yang kutahu makin lama semakin banyak kaum hedon dan kaum – kaum yang berlagak “borjuis” di dalam kota ini. Kaum – kaum hedon makin lama semakin bertambah banyak, di satu sisi kaum – kaum miskin di beberapa wilayah Jakarta makin terlupakan dan akhirnya hanya  dapat menangis serta menikmati hidupnya dengan sisa – sisa fasilitas yang tersedia..
Mereka yang memiliki materi berlebih pun jarang dan mungkin hanya dalam momen – momen tertentu mengingat saudara – saudara nya yang serba kekurangan tersebut. Selain di waktu – waktu tertentu tersebut, mereka hanya bisa memikirkan bagaimana caranya untuk dapat bersenang – senang sepanjang hari menghabiskan sisa umur mereka dengan melakukan hal – hal yang tidak berguna menurut saya..

Saling menyalahkan..ya, antara pemda dan masyarakat Jakarta sendiri sering hanya saling menyalahkan dan mengkambinghitamkan satu sama lain agar bertanggung jawab terhadap kondisi kota besar dan megah tersebut. Mereka sesungguhnya sama sekali tidak mempunyai kesadaran, tentang bagaimana sesungguhnya kesalahan terletak di dalam diri mereka masing – masing..tak guna engkau saling menyalahkan jika sesungguhnya kesalahan tersebut ada pada dirimu dan engkau malah enggan merubah dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Yang dibutuhkan oleh Jakarta, mungkin adalah kesadaran masing – masing elemen di dalam Jakarta itu sendiri. Kerjasama, kesadaran, dan kesatuan gerakan untuk mengubah kondisi Kota lah yang mungkin dapat sedikit memperbaiki wajah kota yang sudah teramat rusak ini, ya sekali lagi, mungkin…

Dan sekali lagi saya katakan, terkecuali urusan keluarga saya, saya sudah sangat bosan dan muak dengan kondisi Daerah Khusus Ibukota Jakarta ini.

Sekian, Terima kasih.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s